Field Trip Mahasiswa Pengembangan Masyarakat Islam

Dipublikasikan oleh adminpmi pada

Kegiatan Field Trip bermuatan PKL Mahasiswa jurusan Pengembangan Masyarakat Islam FDIK UIN Raden Intan Lampung

 

Pada bulan November tahun 2022 sejumlah 50an mahasiswa prodi PMI FDIK UIN Raden Intan Lampung berangkat ke Kota Yogyakarta dan Malang Jawa Timur untuk melaksanakan kegiatan Field Trip dan Penguatan Kompetensi Lapangan (PKL). Di kota Yogyakarta rombongan mahasiswa mengunjungi dan mendalami kegiatan pemberdayaan masyarakat di tiga lokasi : Masjid Jogokariyan, Kampung Batik Giri Loyo dan Desa WIsata Nglanggeran.

 

Di Masjid Jogokariyan Mahasiswa berdiskusi dengan Dewan Kesejahteraan Masjid untuk menggali dinamika pemberdayaan masyarakat berbasis Masjid. Seperti diketahui bahwa pembinaan jama’ah yang dilakukan di masjid Jogokariyan merupakan model pemberdayaan masyarakat yang banyak dijadikan rujukan oleh para pengurus masjid di Indonesia, untuk memberdayakan masyarakat dengan menjadikan masjid sebagai sentra kegiatan. mahasiswa menggali pengalaman DKM untuk terus merancang pendekatan dan strategi inovatif guna mengembangkan kualitas kehidupan jama’ah. Hasil penggalian terhadap dinamika empirik yang dilakukan di masjid ini dijadikan sebagai data-data empiris oleh mahasiswa guna mendalami teori-teori pemberdayaan masyarakat berbasis masjid.

Selain mengunjungi masjid Jogokariyan, mahasiswa mengunjungi desa wisata Nglanggeran untuk menggali pengalaman empiris pengurus desa dan masyarakat untuk pemberdayaan masyarakat berbasis desa wisata. Desa Nglanggeran, sebagaimana halnya kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta umumnya, dahulunya merupakan daerah miskin karena alam yang dikenal tandus. Seiring dengan perjalanan waktu desa Nglanggeran terus berkembang menjadi sebuah desa dengan kegiatan pengelolaan pariwisata yang kian maju. Pengembangan kesejahteraan ekonomi masyarakat berbasis pengembangan potensi lokal. Semua kelengkapan kegiatan wisata, mulai dari kendaraan angkutan atau transportasi pengunjung untuk mengelilingi desa, aneka makanan dan minuman untuk konsumsi pengunjung, aneka oleh-oleh, diproduksi oleh masyarakat dengan menggunakan bahan-bahan yang diproduksi oleh masayarakat desa Nglanggeran. Lahan pertanian dan perkebunan masyarakat diolah dan diarahkan untuk ditanami aneka tanaman perkebunan yang bisa dijadikan sebagai daya tarik wisata. Hasil perkebunan masyarakat berupa buah coklat dan lainnya diolah oleh masayarakat sendiri, dengan didampingi oleh Pokdarwis dan pemerintah setempat untuk menjadi aneka makanan. coklat yang diproduksi oleh masyarakaat desa, ditawarkan kepada pengunjung melalui sentra oleh-oleh yang dikelola oleh tenaga terlatih yang tidak lain adalah warga desa Nglanggeran sendiri.

Menurut mahasiswa peserta tour, apa yang dilakukan oleh masyarakat Nglanggeran merupakan model pengembangan desa wisata berbasis masyarakat. Dari awal semua yang terlibat, baik sebagai penggerak, sebagai fasilitator bahkan investor yang menanamkan modalnya untuk pembangunan pasilitas wisata desa. Adalah warga desa Nglanggeran. Kegiatan desa wisata dengan berbagai sub kegiatannya memberikan kontribusi dalam mengembangkan kesejahteraan masyarakat desa.
Pengalaman empiris warga desa Nglanggeran bisa dijadikan rujukan oleh masyarakat dan bisa menjadi fakta empiris gambaran dari pengembangan desa wisata yang benar-benar berbasis masyarakat.
.

Gambar 1
Gambar 2
Gambar 3
Kategori: Berita PMI